RSS

Belajar Ukhuwah dari Perjuangan Hajar dan Ismail

12 Feb

Disini saya ingin memflash back kembali kisah Siti Hajar dan perjuangannya demi memperoleh air untuk anaknya Ismail yang sedang menangis minta air. Mungkin kisah ini sudah banyak dibahas, tapi saya akan mencoba membahasnya dari sisi lain yaitu melihat sisi perjuangan Hajar yang melahirkan ukhuwah karena perjuangannya.

Kisahnya berawal dari Nabi Ibrahim yang membawa Hajar dan putranya Ismail ke Makkah. Keluarga kecil nan bahagia ini menelusui lembah gurun untuk sampai di tempat yang namanya Mekkah. Kala itu, Hajar lagi menyusui putranya Ismail. Di Makkah juga belum ada satu orang pun di sana kecuali mereka. Yang ada hanya hamparan gurun yang sangat luas tak berujung. Di sana Hajar dibuatkan rumah oleh Ibrahim yang nantinya akan menjadi tempat tinggal Hajar dan Ismail. Disediakan olehnya dua gerabah besar dirumah itu. Satu berisi kurma dan gerabah yang satunya berisi air. Setelah semuanya selesai, Ibrahim beranjak pergi meninggalkan Hajar dan Ismail begitu saja.

Mengetahui Ibrahim pergi, Hajar ikut beranjak dan mengikutinya.  Hajar seraya berkata “Hai Ibrahim, ke mana engkau hendak pergi ?, apakah engkau meninggalkan kami sedang di lembah ini tidak terdapat seorang manusia pun dan tidak pula makanan apapun ?”.

Yang demikian tadi di ucapkan Hajar berkali-kali pada suaminya, namun Ibrahim tidak menoleh sama sekali, hingga akhirnya Hajar berkata, “Apakah Allah menyuruhmu melakukan ini?”.

“Ya”, jawab Ibrahim.

“Kalau begitu, kami tidak di sia-siakan”. Hajar pun berhenti mengikutinya dan kembali ke rumah yang telah dibuatkan oleh suaminya Nabi Ibrahim.

Hari telah berganti siang, bintang digantikan cahaya mentari. Hajar masih tetap menyusui anaknya Ismail yang masih kecil. Dia makan dari kurma yang disediakan oleh Ibrahim dan juga minum dari air yang ada. Hari terus berganti, siang malam terus berpindah tempat. Persediaan air yang dimiliki semakin menipis. Namun Hajar masih saja menyusui hingga persediaan air mereka yang ada di bejana habis. Hajar dan Ismail merasa haus, tapi air yang ada habis. Ismail terlihatdalam keadaan lemas. Hajar beranjak pergi karena tak tega melihat keadaan anaknya. Dia berjalan mencari sumber air, tapi yang dilihatnya hanya padang pasir, tak lebih dari itu. Bukit Shafa merupakan yang paling dekat dengan tempatnya berada. Dia berjalan kearahnya. Diatas Shafa Hajar memandang luas menyapu gurun untuk mencari sumber mata air. Disisi lain bukit dia melihat sumber air di bukit Marwa, Hajar langsung berlari kearah sana. Kosong. Tak ada sumber air disana, itu fatamorgana. Dipandangnya lagi bukit gurun, ada sumber mata air di bukit Shafa tertangkap pandangan mata Hajar. Dia berlari kearah sana. Kosong, lagi-lagi fatamorgana. Dipandanginya lagi bukit gurun, tertangkap lagi dibukit Marwa ada air, dia kesana dan kosong. Di Shafa tertangkap lagi ada air, tapi kosong juga. Hajar bolak-balik Shafa – Marwa sebanyak tujuh kali. Ismail mulai menangis karena kehausan. Hajar menenangkan dirinya yang lelah berlari mencari air dan juga menennagkan Ismail yang kehausan. Hajar yakin pasti ada pertongan Allah dan dia tidak akan disia-siakan.

Ismail terus menangis karena kehausan. Kakinya mengorek-ngorek tanah disekitarnya. Allah SWT memang tidak menyia-nyiakan mereka. Keajaiban pertolongan Allah muncul. Tanah yang di orek-orek oleh kaki Ismail tiba-tiba muncul mata air yang memancar deras. Hajar mengumpulkan air itu sambil berkata zam-zam ke dalam bejananya. Sejak saat itulah air yang memancar tersebut diberi nama mata air Zam-zam.

Sejak saat itu, Hajar dan Ismail tidak kekurangan air lagi. Mereka makmur atas karunia Allah ini. Hingga suatu hari datanglah segolongan pedagang yang mampir ke gubuk Hajar. Mereka datang untuk meminta air karena ketersediaan air yang mereka miliki habis. Hajar mempersilahkan mereka sepuasnya mengambil air zam-zam tersebut. Melihat kebaikan Hajar, para pedagang tersebut senang. Sebagai ucapan etrima aksih mereka turut juga membangun rumah didekat situ untuk menemani Hajar yang sendirian. Dari situlah mulai terjalin ukhuwah yang nantinya komunitas kecil tersebut berkembang pesat mengisi kota Mekkah.

Sebenarnya banyak hal yang bisa kita ambil dari kisah ini. Disini akan saya coba uraikan satu  persatu. Yang pertama adalah percaya kepada Allah. Hajar percaya bahwa jika ini perintah Allah untuk meninggalkannya di Mekkah ini seorang diri ebrsama Ismail pasti ada sesuatu dari Allah yang baik untuk semuanya. Hajar eprcaya Allah pasti tidak akan menyi-nyiakannya. Allah pasti akan menolongnya jika dirinya dalam kesulitan. Sifat ini harus kita tiru, setiap cobaan dari Allah pasti ada hikmah dibaliknya. Jangan langsung men hujat bahwa ini tidak adil, karena Allah memberi cobaan pada hambanya pasti ada solusi dibaliknya dan juga pasti cobaan tersebut sesuai dengan kemampuan hambanya untuk dapat diselesaikan. Tinggak bagaimana usaha kita untuk menyelesaikannya sungguh-sungguh atau tidak dan masih percaya Allah akan membantu atau tidak.

Yang kedua yang bisa diambil adalah kisah perjuangan Hajar yang ebrlari dari Shafa ke Marwa. Hajar bekerja keras untuk itu. Mungkin dia sadar itu hanya fata morgana dan disana tidak ada yang namanya air. Hajar mungkin hanya ingin menunjukkan kesungguhannya pada Allah semata. Mungkin dia teringan ucapannya bahwa kalau ini merupakan perintah Allah, amka Allah tidak akan menyi0a-nyiakannya. Ini adalah pont yang harus kita pelajari saat ini. Hajar menunjukkan makna bahwa kerja keras itu adalah dengan emnunjukkan kesungguhan kepada Allah. Kita harus meniru ini. Mari bekerja keras seperti Hajar yang berlari dari Shafa dan Marwa meski dia tahu tak ada air disana. Dia terus berlari dengan gigih dan yakin akan pertolongan Allah. Hajar percaya Allah tidak akan menyia-nyiakan iman dan amal kita. Bekerja saja terus dengan keras dan sungguh-sungguh. Maka jika itu sudah dilaksanakan keajaiban Allah akan muncul dimana saja dari arah mana saja tanpa kita duga sebelumnya

Pelajaran ketiga adalah berkat usaha keras Hajar dan bantuan Allah hingga munculah mata air zam-zam,  saat ada pedagang datang yang kekurangan air, Hajar dengan ikhlas berbagi dan membuat para pedangang tersebut memutuskan untuk tinggal bersama Hajar disitu. Hal ini mencerminkan ukhuwah yang terjalin yang amna awalnya dari keimanan kepada Allah yang ditunjukkan dengan kepercayaan, lalu dibarengi dengan kerja keras dan sungguh-sungguh, diakhir dengan berbagi meningkatkan jalinan ukhuwah. Dari hal ini semoga kita dapat belajar banyak dan mulai memperbaiki kualitas diri kita agar menjadi elbih baik lagi dari sebelumnya.

 
Leave a comment

Posted by on February 12, 2012 in artikel

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: