RSS

DUNIA SAAT INI SELAYANG-PANDANG

07 Nov
Saat ini, 2011 Masehi atau 1432 Hijriah, suka atau tidak suka, dunia menyaksikan bangsa Cina tumbuh sebagai kekuatan raksasa.
Kekuatan lain, Amerika Serikat, sedang hampir panik dalam kesulitannya.
Eropa, sedang diam-diam membangun diri membalas ‘mengejek’ Amerika. Afrika, sedang bersiap akan ekonomi dan perdamaian baru. Timur-Tengah semakin menikmati keberlimpahan kekayaan dan tetap bersitegang dengan Israel yang ‘menyelundup’ ke wilayah mereka.
Asia semakin mantap keluar dari Krisis Asia.
Australia kukuh menjadi wakil Amerika Serikat di Asia. Dan Indonesia sedang mencari bentuk penyembuhan terbaik setelah babak-belur dan tarik-menarik berbagai kekuatan di dalamnya.
Orang Cina, telah ke Bulan (mungkin mencocokkan ada atau tidaknya Kelinci besar di Bulan seperti di legenda klasik Cina).
Negara yang secara resmi masih berpaham Komunis dan bernuklir namun juga berpasar cukup bebas itu telah melakukannya, menyusul Amerika Serikat dan Rusia.
Dan Laptop IBM pun telah berganti nama menjadi Lenovo yang dimiliki investor Cina.
Perusahaan minyak dan gasnya sedang mengeksplorasi dunia, termasuk di wilayah konflik Asia Tengah, dengan ‘dilindungi’ tentara dan rakyat Amerika Serikat-NATO yang membayar ‘uang keamanannya’.
Telepon selular serta barang elekronik buatan Cina – bahkan yang bermerek non Cina – semakin mendominasi pasar elektronik murah. Ferrari, Lamborghini, Bugatti, Rolls-Royce, Maybach, Mercedes, BMW serta aneka merek mobil kelas dunia lain – termasuk buatan mereka sendiri – melintasi jalan-jalan super lebar-mulus mereka, beriringan dengan sistem perkereta-apian super canggihnya.
Bahkan populasi Muslim Cina semakin besar, dan semakin banyak pula yang mampu naik Haji.
Republik Rakyat Cina (RRC), ‘Raksasa Induk yang telah tidur lama’, Sang Naga itu, telah ‘bangun’. Dan anak-anak sang Naga yang tersebar, kaum Cina Perantauan, bersatu-padu, bekerjasama, langsung atau tidak, suka atau tidak, menyambutnya dengan suka cita.
Perdana Menteri Hu Jintao dan timnya pun menjelma menjadi CEO, Manajer Pemasaran, Manajer Investasi, dan Public Relation Manager paling hebat di muka Bumi saat ini.
Bahkan Taiwan, ‘propinsi yang membangkang’ – menurut Republik Rakyat Cina – pun, bekerjasama dagang dengan baik sekali dengan induknya.
Dan kita tahu, salah satu pusat ekonomi Kapitalisme Asia, Hong Kong, telah menjadi milik RRC sepenuhnya, sejak dikembalikan Kerajaan Inggris Raya (Great Britain atau United Kingdom alias GB atau UK) kepada RRC.
Ironisme “Global Paradox” dan arus “Megatrend Asia” serta konflik “Clash of Civilizations” dalam masa Pasca Modern (Post-Modern)/New Age kini yang “back to nature” ini, sedang benar-benar terjadi.
Di Asia Tenggara, Singapura juga sukses beralih dari wilayah kekuasaan ras Melayu (lihatlah uang 1 dollar Singapura dan anda akan melihat gambar seorang Melayu pemimpin pertama Singapura keturunan suku Minangkabau dari Sumatera Barat), menjadi wilayah yang diperintah oleh kaum Cina perantauan yang Western-minded, dan adalah ‘wakil’ Kapitalisme dan Neo-Kolonialisme Amerika Serikat (dan Yahudi) di Asia Tenggara.
Walaupun Singapura tidak menganut Demokrasi, dan perbedaan pendapat tak diperbolehkan, memberlakukan hukum cambuk, memberlakukan undang-undang subversi untuk menangkap siapa saja yang dianggap membahayakan, sebagaimana ditegaskan pendiri Singapura Lee Kuan Yew dalam Biografinya bahwa bangsa Asia tidak (atau belum) memerlukan Demokrasi – mereka lebih memerlukan disiplin dan pendidikan menurutnya – yang  berarti tak sepenuhnya menerima cara Amerika Serikat (United States of America alias USA); namun hampir segala hal di dalam sendi-sendinya, adalah cetak-biru dari sistem Barat Modern setelah Renaissance.
Kebijakan yang pro pertumbuhan ekonomi, kestabilan, padat modal, dan pengumpulan modal investasi untuk diinvestasikan di manapun di dunia, merayakan Kapitalisme dan Pasar Bebas – yang ternyata tak sepenuhnya bebas juga jika kita teliti – adalah motor mereka dalam bernegara.
Menarik pula kiranya mengkaji bahwa sejak “Bubbles Economy” dan Krisis Dunia “Great Depression” yang berpuncak di 2007-2009 merontokkan segala kesombongan prinsip Ekonomi Kapitalisme, di tahun 2011 nanti Singapura bermaksud untuk menjadi hub (penghubung) perbankan Syari’ah di Asia Tenggara (dan Asia) sementara negara muslim di sekitarnya seperti Malaysia, Brunei, apalagi Indonesia, belum memiliki visi seperti ini saat itu dicanangkan Singapura beberapa tahun lalu. Bahkan mungkin, memang belum mampu.
Kerajaan Malaysia, negara tetangga yang mengagumkan pula pembangunannya, mempunyai visi lain. Negara yang paling cepat keluar dari Krisis Moneter pasca 1998 di antara negara yang terkena dampaknya di Asia Tenggara (bahkan di Asia) di bawah pimpinan Perdana Menteri Mahathir Mohamad – yang djuluki “Little Sukarno” oleh pers Barat – kukuh memegang prinsip Islam dan Syari’ah (termasuk Ekonomi Syari’ah tentu saja).
Dan semakin hari, Malaysia, semakin sukses menggaet wisatawan ‘bersih’ Arab yang tak berniat maksiat – berbeda dengan yang kebanyakan datang ke Indonesia – dan menarik investasi mega-trilyunan dollar Amerika atau mega-trilyunan Euro non-Riba dari negara-negara Islam Timur-Tengah (yang saat ini adalah kawasan paling kaya dan stabil keuangannya di dunia itu).
Mereka meninggalkan negara tetangganya, nusantara Indonesia Raya, yang senang mengklaim dirinya sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim namun juga tak banyak menangguk keuntungan darinya karena salahnya sendiri.
Dan di antara negara Islam Timur-tengah, omong-omong, kesan-reputasi Indonesia dari berbagai hubungan saya dengan mereka, pertama, adalah bahwa Indonesia adalah negara muslim bertenaga kerja tak berkualitas tinggi atau negara PRT.
 
Kedua, Indonesia adalah negara yang banyak terdapat kaum penipu.
 
Dan ketiga, Indonesia negara kaum penggemar Mistik-klenik atau Penyihir.
 
Berlainan dengan kesan mereka terhadap Malaysia, suka atau tidak suka.
Omong-omong, berkaitan dengan reputasi Indonesia sebagai negara pengekspor pekerja, menarik kiranya merenungkan bahwa negara muslim semiskin Bangladesh, tak pernah mau sengaja mengeskpor kaum perempuannya ke luar negeri untuk bekerja.
Malaysia, negara yang pernah hendak diganyang Presiden Sukarno karena dicap sebagai ‘negara boneka’ Imperialisme dan Neo-Kolonialisme Barat itu, dulu banyak belajar dari kita. Kaum Cendekiawan dan Ulama kita adalah juga Cendekiawan dan Ulama mereka. Sejak di masa Kakek dari ayah saya, Dr. Soendoro Kartosoehardjo, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya di awal 1970-an, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menerima banyak sekali mahasiswa Malaysia.
Namun sekarang anak-anak kita, jamak yang bersekolah di sana. Kini adik sepupu saya, sempat hendak bersekolah di Malaysia menuntut sejenis ilmu (walaupun akhirnya memang tidak jadi).
Banyak yang sering menceritakan keanehan dan degradasi sistem dan mutu pendidikan kedokteran yang dirasakan semakin parah, sementara Malaysia masih mengirimkan mahasiswanya ke sana namun juga sedang membangun banyak sekali Rumah Sakit murah dan berkualitas tinggi, bahkan setara kualitasnya dengan rumah sakit Singapura yang tersohor itu, namun lebih murah.
Negara jiran (tetangga) ini, ‘adik serumpun’ ini, yang mayoritas adalah keturunan atau keluarga besar suku Minangkabau Sumatera Barat, sedang mengajari ‘kakaknya’ untuk bernegara dan bermasyarakat, kiranya.
Mobil Proton mereka, yang dulu bekerjasama dengan Misubishi dan sekarang bekerjasama dengan Lotus, telah dijual di pasaran Jerman.
Angkasawan Malaysia telah mengorbit mengalahkan calon astronot Indonesia di jaman Orde Baru.
Dan, hmmmm … Upin dan Ipin serta Kak Rosnya, kiranya mengalahkan pesona si Unyil, Usrok, Ucrit dan Pak Raden.

BERSAMBUNG …
 
Leave a comment

Posted by on November 7, 2011 in artikel

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: