RSS

Kisah si Laba-Laba dan teman-temannya Mempertanyakan “Siapa yang paling hebat di Dunia?”

03 Nov

Pagi itu si ibu burung terlihat sibuk membersihkan sarang yang penuh dengan cangkang telurnya. Di raut muka ibu burung tergambar muka yang penuh bahagia, karena memang empat ekor burung mungil telah terlahir untuk siap menemani hidup si ibu burung itu.

“Anak-anakku, kalian itu kelak harus bisa menjadi burung yang hebat, yang bisa terbang ke langit, melihat keindahan bumi yang tidak semua binatang bisa melakukannya.” Terdengar nasihat si ibu burung sambil menyuapkan ulat kecil hasil buruannya di sekitar sarang burung tempat ia tinggal.

“cik cik” suara itu lah yang terdengar dari empat burung mungil buah hatinya.

“Meski kalian belum bisa bicara,  tapi saya harap bisa mengerti apa yang ibu katakan. Oh iya.. Ingat juga, kalian tidak boleh menjadi burung yang hanya berpangku tangan yang hanya duduk diam menunggu datangnya makanan.  Itu namanya pemalas…” semakin lama, kata-kata si ibu burung semakin bernada tinggi. Hingga membangunkan si laba-laba dari peraduannya yang tidak jauh dari sarang burung itu.

“Haahhhh…..!” si Laba menguap dengan sangat lepas.

“Itulah contoh orang yang malas anak-anakku.. janganlah meniru pak laba-laba yang sukanya tidur dan menunggu makanan”.

“Eh,,, dasar ibu-ibu” suara pak laba-laba yang agak serak, “Jangan salah ya, dari spineret ku ini bisa menghasilkan jaring-jaring yang sangat luar biasa, kau tau jaring-jaringku bisa menjebak serangga-serangga yang melewatinya dan itulah cara saya mencari makanan. Nikmat,,,!! tidak perlu terbang kesana kemari, apaan? Cuma dapat capek, dan itulah kehebatan saya. Hanya pak laba-laba yang bisa melakukannya. Hahahahahaha……..”.

“Heh, Bapak, jangan sombong ya? Saya lebih hebat dari kamu, saya bisa merawat anak-anak saya sebanyak ini sendirian. Saya mencari makanan sendirian, saya bisa mengumpulkan daun-daun kering ini selama saya mengandung dan bisa membuat sarang ini sendirian. Bahkan sarang ini tidak saya gunakan untuk membunuh makhluk lain tetapi saya gunakan untuk menghidupi makhluk-makhluk mungil ini”. Mata ibu burung itu terlihat berkaca-kaca.

Tampaknya perkataan si ibu burung tadi tengah memancing pertengkaran di antara mereka berdua. Meskipun si ibu burung terus menerus menyeka air matanya yang membanjiri seantero pipinya, tampaknya pak laba-laba tak menyerah menyerang perkataan ibu burung, terus mempertahankan pendapatnya kalau ia lah yang terhebat. Tak ada makhluk lain yang lebih hebat dari dia. Terdengar pertengkaran mereka berdua sampai ke telinga pak bunglon yang sedang sibuk mencari makanan di sekitar pohon tempat bu burung dan pak laba-laba tinggal.

“Lho lho lho… Apa yang sedang kalian perdebatkan?”

Diantara pak laba-laba dan ibu burung tidak ada yang menjawab. Hanya penegangan urat nadi yang menjadi jawaban mereka. Mata pak laba-laba melotot sedangkan mata ibu burung bermandikan butiran-butiran air mata. Pak Bunglon pun semakin geram.

“Kalian tau? Di antara kalian itu tidak ada yang lebih hebat. Kalian semua tak tau malu. Sudah tua-tua juga” suara pak bunglon yang agak cempreng semakin membuat panas perdebatan. Tampaknya pak bunglon tak cukup bijaksana menghadapi pertengkaran antara ibu burung dan pak laba-laba. Justru ia malah ikut dalam arus pertengkaran mereka.

Rombongan semut merah sedang bersiap-siap berbaris di depan sarang mereka. Sarang yang hanya terlihat lubangan kecil di bawah pohon yang tak berguna tampaknya. Tetapi dalamnya begitu kaya makanan, ada potongan roti, butiran gula, ada juga keju yang sudah beberapa hari mereka simpan untuk persediaan. Meskipun begitu mereka tetap saja mencari makanan setiap hari.

Terlihat satu komandan yang tampak hitam sendiri. Bertubuh kekar dan yang pasti perutnya one pack bukan six pack. Itulah biasanya ledekan anak-anak buahnya. Tapi ia tak pernah marah meskipun anak buahnya sering memperlakukannya seperti itu. Iya sih, ia bertubuh kekar tapi gendut. Tapi semua itu tidak menjadi masalah. Begitu indah kebersamaan mereka. Tampak komandan mereka sedang berteriak-teriak menyiapkan anak-anak buahnya. Meskipun mereka sering bercanda, tetapi ketika baris sikap disiplin harus tetap dijaga. Tapi kali ini si komandan agak terganggu dengan suara pertengkaran ibu burung, pak laba-laba dan pak bunglon. Pak bunglon yang terus menggebu-menggebu mendeklarasikan diri bahwa ialah yang terhebat, karena ialah satu-satunya hewan yang dapat mengubah warna kulitnya itulah yang membuat pertengkaran semakin sengit. Tapi ternyata si komandan tak cukup lihai menanggapi pertengkaran itu. Ia malah ikutan berdebat kalau ialah yang terhebat.

“Sungguh tak berguna pertengkaran kalian. Diantara kalian tidak ada yang paling hebat.” Ternyata suara si kancil yang terkenal cerdik dan licik itu agak mengagetkan mereka. “Diantara kalian tidak ada yang memiliki kecerdikan dan kelicikan melebihi saya. Hahaha…”

Pak laba-laba tentunya tidak terima dengan statement itu. “Apaan? Tapi kamu tidak bisa sampai mematikan mereka, khususnya yang pernah kamu jahili. Lihat dong saya, saya lebih hebat dari pada kamu. Saya bisa mematikan mangsa saya.”

“Itu namanya pembunuh wahai laba-laba. Itu bukan yang terhebat, tapi yang terjahat.” Teriak ibu burung yang masih saja menyeka air matanya.

Matahari semakin meninggi, sudutnya sudah hampir 180 derajat dengan kepala binatang-binatang yang tak tahu malu itu. Sangat panas udara siang ini, tapi tak lebih panas dari pertengkaran mereka. Tak bosen-bosennya mereka beradu mulut dari pagi sampai sekarang. Sampai-sampai matahari pun malu melihat mereka, hingga matahari segara membenamkan diri, mereka masih saja beradu argumen.

“Sungguh tidak berguna kalian” si ayam jago baru pulang dari jalan-jalan mencari makan seharian tampaknya juga malu melihat tingkah laku saudara-saudaranya itu. Tampaknya agak mereda perdebatan itu setelah si ayam jago dengan bijaksananya menasehati mereka. Mereka semua merebahkan diri di sebuah bukit dekat pohon tempat mereka tinggal. Mereka agaknya kelelahan dengan perdebatan yang dirasa tak berguna. Hari telah memasuki senja, wajah langit semakin indah dipandang. Bintang-bintang berdatangan untuk kemudian menghiasi langit malam. Tiba-tiba mereka terdiam terkagum-kagum dengan apa yang sedang mereka lihat.

“Waw……..spektakuler…….!!!” pak laba-laba terkagum-kagum

Ibu burung pun tak hilang rasa, “Luar biasa indahnya?”

“Kira-kira siapa yang bisa membuat semua ini ya?” dengan lugunya si komandan bertanya.

“Hebat ya? Gimana caranya bisa memasang bintang satu-satu di atas?” si kancil tumben tak cerdik kali ini

Pak Bunglon yang rebahan di paling ujung pun menambahi “Yang bisa membuat semua ini ialah yang terhebat diantara kita”

“Iya,, setuju…..!!!!!” serentak suara mereka bergema.

Si Ayam jago pun angkat bicara. “Sudah sadarkah kalian dengan semua ini? Dia lah yang terhebat, Dia lah yang paling Agung.

“Siapa Dia pak Jago?” tanya si komandan

“Dia lah Allah swt. Dia lah pencipta kita. Dia lah yang spektakuler. Allah lah yang luar biasa”

“Waw….”

“Allahu Akbar” Pekik si Jago

Ternyata mereka semua mengikuti

“Allahu Akbar…” suara mereka memecah keheningan malam.

 
Leave a comment

Posted by on November 3, 2011 in Cerita

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: